Selamat pagi matahari!
Berawal dari tweet seorang kawan yang menyoal tentang
gerhana matahari yang rencananya bakal rilis pagi ini, iseng-iseng aku searching beritanya. Berita bilang nanti
gerhana muncul sebelum pukul 06.30 a.m. dan bisa dilihat diseluruh nusantara
kecuali Sumatera (jadi sebenarnya bukan seluruh kan ya?). Kucari berita yang
lain, lagi-lagi pendapat orang yang sama, Thomas dari LAPAN, "Jawa bagian
barat akan menyaksikan gerhana sangat sebentar. Pukul 06.30 WIB, gerhana sudah
benar-benar berakhir. Untuk wilayah Papua, gerhana bisa disaksikan lebih dari
satu jam." (Kompas, 8-5-13). Back… Lalu
tak sengaja ada Wikipedia, muncul menawarkan sesuatu yang teramat klasik, sesuatu
dari masa lalu. Sinetron GERHANA!
Ciaaaaaaaaa! Mau tak mau aku harus mengingatkan
diriku bahwa dulu, dulu sekali saat masih SD gerhana ini jadi salah satu
tontonan yang selalu kunanti-nanti. Tak banyak yang kuingat dari isinya, yang
pasti ada peggy melati yang “mendes” luar biasa. Untuk bagian satu ini
sepertinya aku tak bisa lupa karena dulu sosok peggy selalu diidentikkan dengan
seorang kawan sedari kecilku, Pia namanya.
Lalu fokusku terpecah ketika mendengar suara simbah
lantang melantunkan adzan dari rumah tuhan, suaranya masih mengagumkan.
Kuselesaikan bacaanku, mampir ke sarang burung sebentar, menyimak tweet
kawan-kawan lalu melesat keluar, bercumbu dengan dinginnya air pam, setdah.
Kulihat di barat si bulan mulai berlari enggan bersua matahari, padahal ufuk timur
masih gelap, dan jauh di atas sana bintang-bintang masih memancar titik-titik
terang. Yah, sebuah drama kejar-kejaran yang unik. Ah sudahlah, mari sembah
penciptanya.
05.30 a.m.
Kutengok matahari dari belakang rumah ibu, tapi tak
kelihatan batang hidungnya, mungkin dihalangi mendung. Dan tanpa bisa
kukendalikan terlintas sebuah ide yang teramat cemerlang. Tanpa banyak
pertimbangan ku kumpulkan perlengkapan yang kupikir akan kubutuhkan, HP dan kacamata.
Katanya kalau gerhana kita tidak boleh melihat matahari dengan cuma-cuma atau
berisiko buta, hahaha. Segera, ku kelurkan sepeda si abang lalu menyusur jalanan, menuju ujung desa ibu
sebelah utara, ada bangunan tinggi menjulang di sana, dan bebas dari pepohonan.
Kulihat mentari mengintip tak tau malu dengan
tampilan yang biasa saja, kuning keemasan meninggalkan jejak oranye berkemilau.
Tapi ada yang salah, dia datang agak condong ke utara, bukan lagi lewat jalur
timur seperti biasanya. Entahlah, sepertinya pagi ini mataku kurang percaya
diri mungkin gagal menyesuaikan diri. Kukayuh sepeda agak lebih jauh lagi, lalu
berat. Well , bannya kurang angin. Aaaah,
tidak tepat! Coba kentutku bisa mengisi ulang :O
Kuputar haluan, mampir rumah tetangga demi pompa,
masih dengan penasaran tentang gerhana. Dan tekad membulat, hari ini harus
berhasil mengejar matahari. Pulang sebentar menguras kehausan lalu mengobrak-abrik
isi tas mencari sumber uang. Siapa tau nanti sampai Jl. Magelang, sekalian
pencairan. Mantapkan!
Well, keraguaanku berubah jadi yakin, mana dia yang kalian
sebut gerhana matahari. Mungkin hanya ada pada mataharimu ada di duniamu tapi
tidak untuk matahariku :| Kemilau
kuningnya masih luar biasa, tidak ada hitam yang menyelimutinya. Ah!
Padahal aku sudah sampai kantor kecamatan -_______-
06.30 a.m.
Berpacu di sela-sela teriakan klakson bis kota,
mobil, dan berjuta juta motor di lalu lalang Jl. Magelang, sesekali berhenti
ketika serombongan anak sekolah menyebrang jalan, dan baru sadar. Ini bukan liburan lagi ya tuhan! Lebih cepat
lagi, belok kiri, tersisa seribu lima ratus meter lagi. Lewat… Lalu di sana
mataku sempat menangkap sosok yang tak pernah lupa menanyakan keadaanku setiap
kami bertemu dan dilanjutkan mengabarkan keadaan anaknya padaku, ayah peggy.
Sayang, jarak kami sekarang kelewat jauh untuk sekedar menyapa dan lagi
sepertinya dia pun tak memperhatikanku. Sudahlah, aku teramat kehausan.
07.40 a.m.
Dan sampai rumah. Kuparkir sepeda abangku, kuusap
keringat dijaket sisa abangku, lalu menengok gadget jadul yang lagi-lagi warisan abangku. Iseng kucari kontak si
peggy, sepertinya aku harus mengirim pesan singkat, apapun isinya. Kemudian aku
tenggelam dalam jejaring sosial sambil menikmati sarapan. Sarapan? Sekali lagi kulirik jam dinding, 08.00 a.m.
Ah ya! Tumben yang teramat menyenagkan kawan! Yah jadi ingat, kalian sudah
makan? Lalu bu hikmah apa kabar :3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar