Sekedar celoteh sambil lalu, diketik pas malam-malam, sambil ngemil dan begadang. Jangan terlalu dalam dipikirkan, jangan bawa-bawa perasaan, jangan marah, dan salam sayang.

Jumat, 10 Mei 2013

Yang Katanya Gerhana Matahari


Selamat pagi matahari!

Berawal dari tweet seorang kawan yang menyoal tentang gerhana matahari yang rencananya bakal rilis pagi ini, iseng-iseng aku searching beritanya. Berita bilang nanti gerhana muncul sebelum pukul 06.30 a.m. dan bisa dilihat diseluruh nusantara kecuali Sumatera (jadi sebenarnya bukan seluruh kan ya?). Kucari berita yang lain, lagi-lagi pendapat orang yang sama, Thomas dari LAPAN, "Jawa bagian barat akan menyaksikan gerhana sangat sebentar. Pukul 06.30 WIB, gerhana sudah benar-benar berakhir. Untuk wilayah Papua, gerhana bisa disaksikan lebih dari satu jam." (Kompas, 8-5-13). Back… Lalu tak sengaja ada Wikipedia, muncul menawarkan sesuatu yang teramat klasik, sesuatu dari masa lalu. Sinetron GERHANA!

Ciaaaaaaaaa! Mau tak mau aku harus mengingatkan diriku bahwa dulu, dulu sekali saat masih SD gerhana ini jadi salah satu tontonan yang selalu kunanti-nanti. Tak banyak yang kuingat dari isinya, yang pasti ada peggy melati yang “mendes” luar biasa. Untuk bagian satu ini sepertinya aku tak bisa lupa karena dulu sosok peggy selalu diidentikkan dengan seorang kawan sedari kecilku, Pia namanya.

Lalu fokusku terpecah ketika mendengar suara simbah lantang melantunkan adzan dari rumah tuhan, suaranya masih mengagumkan. Kuselesaikan bacaanku, mampir ke sarang burung sebentar, menyimak tweet kawan-kawan lalu melesat keluar, bercumbu dengan dinginnya air pam, setdah. Kulihat di barat si bulan mulai berlari enggan bersua matahari, padahal ufuk timur masih gelap, dan jauh di atas sana bintang-bintang masih memancar titik-titik terang. Yah, sebuah drama kejar-kejaran yang unik. Ah sudahlah, mari sembah penciptanya.

05.30 a.m.
Kutengok matahari dari belakang rumah ibu, tapi tak kelihatan batang hidungnya, mungkin dihalangi mendung. Dan tanpa bisa kukendalikan terlintas sebuah ide yang teramat cemerlang. Tanpa banyak pertimbangan ku kumpulkan perlengkapan yang kupikir akan kubutuhkan, HP dan kacamata. Katanya kalau gerhana kita tidak boleh melihat matahari dengan cuma-cuma atau berisiko buta, hahaha. Segera, ku kelurkan sepeda si abang  lalu menyusur jalanan, menuju ujung desa ibu sebelah utara, ada bangunan tinggi menjulang di sana, dan bebas dari pepohonan. 

Kulihat mentari mengintip tak tau malu dengan tampilan yang biasa saja, kuning keemasan meninggalkan jejak oranye berkemilau. Tapi ada yang salah, dia datang agak condong ke utara, bukan lagi lewat jalur timur seperti biasanya. Entahlah, sepertinya pagi ini mataku kurang percaya diri mungkin gagal menyesuaikan diri. Kukayuh sepeda agak lebih jauh lagi, lalu berat. Well , bannya kurang angin. Aaaah, tidak tepat! Coba kentutku bisa mengisi ulang :O 

Kuputar haluan, mampir rumah tetangga demi pompa, masih dengan penasaran tentang gerhana. Dan tekad membulat, hari ini harus berhasil mengejar matahari. Pulang sebentar menguras kehausan lalu mengobrak-abrik isi tas mencari sumber uang. Siapa tau nanti sampai Jl. Magelang, sekalian pencairan. Mantapkan!

Well, keraguaanku berubah jadi yakin, mana dia yang kalian sebut gerhana matahari. Mungkin hanya ada pada mataharimu ada di duniamu tapi tidak untuk matahariku :| Kemilau  kuningnya masih luar biasa, tidak ada hitam yang menyelimutinya. Ah! Padahal aku sudah sampai kantor kecamatan -_______-

06.30 a.m.
Berpacu di sela-sela teriakan klakson bis kota, mobil, dan berjuta juta motor di lalu lalang Jl. Magelang, sesekali berhenti ketika serombongan anak sekolah menyebrang jalan, dan baru sadar.  Ini bukan liburan lagi ya tuhan! Lebih cepat lagi, belok kiri, tersisa seribu lima ratus meter lagi. Lewat… Lalu di sana mataku sempat menangkap sosok yang tak pernah lupa menanyakan keadaanku setiap kami bertemu dan dilanjutkan mengabarkan keadaan anaknya padaku, ayah peggy. Sayang, jarak kami sekarang kelewat jauh untuk sekedar menyapa dan lagi sepertinya dia pun tak memperhatikanku. Sudahlah, aku teramat kehausan.

07.40 a.m.
Dan sampai rumah. Kuparkir sepeda abangku, kuusap keringat dijaket sisa abangku, lalu menengok gadget jadul yang lagi-lagi warisan abangku. Iseng kucari kontak si peggy, sepertinya aku harus mengirim pesan singkat, apapun isinya. Kemudian aku tenggelam dalam jejaring sosial sambil menikmati sarapan. Sarapan? Sekali lagi kulirik jam dinding, 08.00 a.m. Ah ya! Tumben yang teramat menyenagkan kawan! Yah jadi ingat, kalian sudah makan? Lalu bu hikmah apa kabar :3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar