Sekedar celoteh sambil lalu, diketik pas malam-malam, sambil ngemil dan begadang. Jangan terlalu dalam dipikirkan, jangan bawa-bawa perasaan, jangan marah, dan salam sayang.

Senin, 22 April 2013

ORANYE

Kupikir monolog akan lebih tepat menggambarkan bagaimana indahnya ketika merah yang selalu membara melebur bersama lembutnya kuning yang cuma-cuma. Oranye. Warna yang sarat makna.


Bagiku, oranye menjadi satu warna yang paling favorit dan selalu mengagumkan untuk menjadi pilihan. Aku masih ingat kelas seni rupa kala  sekolah dulu, cat sandy merah selalu mencolok ketika dipandang, dan kuning membantunya mengurai sebuah makna yang tersembunyi jauh di dalamnya.

Aku tak pandai mengkomposisi tentu saja, kata guruku lukisanku seperti kehujanan satu minggu. Tapi ketika mencampur sandy, menciptakan warna-warna lain dengan memadu warna dasar, oranye ku selalu sempurna. Sebodoh apapun aku membuatnya. Dan tak ada warna lain yang berhasil ku temukan dengan sempurna selain itu.

Bagiku oranye itu istimewa, bahkan semesta alam mengamininya. Pada setiap pagi, oranye membuka hari sebelum kokok ayam membahana. Tentu saja dengan fajar yang menyimpan rahasia langit ketika para malaikat berdo'a, ketika jiwa-jiwa suci bercengkrama dengan tuhannya.

Lalu oranye jugalah yang menutup hari, ketika perjalanan matahari menjadi sempurna dan dia pulang keperaduannya, demi masa tuhan mengaturnya dengan luar biasa. Aku pengagum senja, transformasi kuning yang memudar disambut merah yang merekah. Oranye sempurna dengan semburat jingga, luar biasa. Momentum yang selalu pantas dibingkai dalam pigura. Dan dia dunia menjadi teduh menyambut jiwa-jiwa yang melelah pasrah setelah seharian memerangi panas yang angkuh tak terkira.

Jadi hari ini aku memilih oranye untuk Senin ku. Tidak sengaja, tapi feelingku bilang ada orang besar yang akan kusapa nanti, ah semoga berkah :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar