Kau angkuh, berdiri tegak menantang langit saat ia terang memancar terik
Apa kau pikir semua baik-baik saja?
Seperti nenek bilang bumimu bersahaja, asri di bawah khatulistiwa
Merah Putih,
Sekali ini, kenapa kau merapuh?
Semudah itu berkibar membumbung awan, tanpa peduli arah gelombang
Merah Putih,
Aku darahmu, yang mungkin belum kau sadari hadirnya
Tapi yakinlah, suatu saat nanti kau haru
Atau setidaknya saat ini kau tau namaku
Ya kan?
Merah Putih,
Aku bisa membawa terbang ke negeri di atas awan
Aku bisa membuatmu berkibar bersama langkah-langkah para pembelajar
Tapi satu kelemahanku, kau selalu lebih dekat dengan Tuhanku
Merah Putih,
Dua puluh tahun berlalu,
Teruslah berdo'a untuk setiap mimpi, cita-cita, dan cinta kita berdua
Semesta mengamini.
kuwi hormat nandi ma? di lapangan denggung kah :p
BalasHapustapi keren puisi nya !!
istorat senayan tau?
Hapuskeren ya